Pembagian Nilai
Prof Dr.Notonegoro membagi nilai sosial menjadi tiga yaitu:
1. Nilai material, yaitu segala sesuatu yang berguna bagi unsur fisik manusia. Contohnya, makanan, air, dan pakaian. Nilai material relatif lebih mudah diukur dengan alat ukur. Contohnya, mengukur isi dengan liter.
2. Nilai vital, yaitu segala sesuatu yang berguna bagi manusia untuk mengadakan kegiatan dan aktivitas. Contohnya, buku dan alat tulis bagi pelajar atau mahasiswa, kalkulator bagi auditor, dan motor bagi tukang ojek motor.
3. Nilai kerohanian, yaitu segala sesuatu yang berguna bagi batin(rohani) manusia. Nilai kerohanian antara lain sebagai berikut:
a. Nilai kebenaran yang bersumber pada akal manusia.
b. Nilai keindahan yang bersumber pada rasa keindahan(estetis). Contohnya: lagu, lukisan dan ukiran atau karya karya seni.
c. Nilai kebaikan atau nilai moral yang bersumber pada kodrat manusia seperti kehendak dan kemauan. Contohnya: menolong orang yang terkena musibah.
d. Nilai religius yang bersumber pada kepercayaan dan keyakinan manusia. Nilai ini merupakan nilai ketuhanan yang tertinggidan mutlak.
Cerita Campuran
Senin, 16 Januari 2017
Kamis, 17 Maret 2016
Ayah
Hei, ketemu lagi
dengan gue. Iya gue, sekar maharani putri wijonarko yang udah ngeposting cerita
yang judulnya ‘’Perjuangan Cinta yang Takkan Pernah Padam’’ tanggal 17 Maret
2016. Gue mau bikin cerita lagi nih, yang gue rasa terjadi di kehidupan nyata
gue juga.
Di cerita gue kali ini, gue mau
menggambarkan sosok seorang laki laki yang tidak pernah putus asa untuk membuat
kita bahagia dan dia rela melakukan apa saja dan intinya membuat kita bahagia.
Laki laki yang seperti itu hanya ada 1 didunia ini yaitu seorang ayah. Ayah
bagi gue itu seperti pahlawan yang rela bekerja keras demi menghidupi
keluarganya. Dan gue merasa sedih ketika gue kehilangan dia untuk selamanya.
Bagi lo semua yang masih mempunyai ayah, tolong disayangi. Jangan lo bentak
karena kesempatan tidak datang dua kali.
Kita mulai
saja ceritanya.
Tepat tanggal 17 maret 2016 ini, ayah gue
ulang tahun yang ke-43 tahun namun ulang tahunnya kali ini hanya bisa gue
rayain dengan mengirim doa kepadanya karna dia sudah tiada. Gue sedih, gue teringat
sama masa masa gue bareng beliau. Gimana gue gaingat coba, selama gue tinggal
bareng beliau, gue selalu dimanja. Gue selalu dikasih apa yang gue mau, gue
selalu di antar jemput sekolahnya, selalu dipijitin ketika gue merasakan badan
capek karena saat gue kehilangan ayah gue, gue masih duduk dibangku kelas 5 SD
sedangkan kaka gue yang bernama Bagas duduk dibangku kelas 6 SD. Disinilah gue
merasa benar benar kehilangan sosok pahlawan dalam hidup gue. Gue tau ayah gue
meninggal juga karena gue tidur dibangunin oleh tetangga gue. Gue ganangis
hanya kaka gue saja yang menangis. Gue kuat, karena gue gamau bikin ayah gue
disana jadi ikut menangis. Namun setelah beberapa hari berlalu, gue jadi kangen
beliau. Kehidupan gue berubah semenjak beliau pergi meninggalkan gue. Beliau
dimakamkan di kebumen, jawa tengah. Gue tidak sempat meminta maaf kepada
beliau, tidak sempat menengok beliau dirumah sakit. Mamah guepun terkejut dan
tidak kuat menahan air matanya hingga akhirnya air matanya menetes deras
bagaikan hujan. Kaka gue juga ikut meneteskan air mata. Gue benar benar tidak
mengira kalau beliau akan pergi secepat ini, iya secepat kilat. Gue sering
merasa bahwa Allah itu tidak adil dengan gue. Kadang gue juga suka mikir dalam
hati: ‘’Kenapa harus ayah gue yang diambil nyawanya.’’ Pikiran dalam hati itu
terus membayangi hari hari gue. Tidak akan ada lagi yang antar jemput sekolah
gue, mengantarkan makanan ketika gue les di sekolah. Semua sudah hilang bagai
ditiup oleh angin. Semua sirna begitu saja. Ketika gue ingin menunjukkan jati
diri gue, Allah malah menjemputnya. Gue semakin gakuat untuk menahan semuanya.
Gakuat untuk menahan besarnya rasa kehilangan yang ada di dalam diri gue. Gue
belum membuat beliau bahagia, gue belum membuat beliau bangga dengan gue. Yang
bisa gue lakuin saat ini hanya menangis, menangis dan menangis. Kalau saja
waktu bisa gue putar balik, akan gue putar balik dimana gue masih kumpul dengan
ayah gue. Ayah gue adalah sosok laki laki yang sering gue banggain di depan
orang lain dan bahkan gue gamalu untuk tiap hari di antar jemput olehnya.
Kebaikan beliau akan gue simpan di dalam hati dan kejelekan beliau akan gue
buang jauh jauh. Gue ingin ayah gue kembali lagi. Kembali bareng gue dan bagas,
kaka gue. Gue gatau harus gimana lagi saat itu terjadi. Gue hanya melihat foto
foto gue di album ketika beliau masih hidup. Apakah ini yang dinamakan takdir? Apakah
ini yang dinamakan keadilan? Mohon, kembalikan ayah gue. Gue ingin minta maaf
kepada beliau karena gue belum bisa membuat beliau bahagia. Yang gue buat
selama ini, adalah kesedihan dalam diri beliau. Beliau sudah tiada, guepun
menyesali semuanya. Gue menyesal karena sudah sering menentang beliau, sering
menolak untuk melakukan yang beliau perintahkan. Gue selalu sayang beliau. Gue
sering iri sama mereka yang selalu pergi kemana mana bareng ayahnya. Terkadang
rasa iri itu bikin gue ingin menangis dan teriak kencang namun kalau gue
lakukan itu juga gaakan mengembalikan semuanya karna semua itu sudah takdir dan
takkan bisa dikembalikan.
40 hari-nya beliau pun tiba. Gue tidak
mengikuti karena gue tidak kuat. Rasa kehilangan masih ada didalam diri gue.
Didalam hati gue, gue masih merasakan kalau dia ada disamping gue. Selalu
menyuruh gue untuk jadi anak yang baik dan menyuruh gue untuk menjaga ibu gue.
Gue selalu kepikiran dengan hal itu entah kenapa gue serasa tidak sanggup.
Ingin rasanya gue ikut beliau yang sudah pergi untuk selamanya namun gue belum
saatnya. Perjalanan hidup gue masih panjang kedepannya, gue harus bisa
membuktikan bahwa gue pantas untuk dibanggakan. Gue jadi sering termenung,
sering menangis hingga detik ini. Dan gue gatau harus melakukan apa untuk
menghilangkan rasa kehilangan ini. Rasa kehilangan yang begitu dalam, rasa
kehilangan yang begitu besar.
Ayah, kumerindukanmu
Hei, ketemu
lagi dengan gue. Iya gue, sekar maharani putri wijonarko yang udah ngeposting
cerita yang judulnya ‘’Perjuangan Cinta yang Takkan Pernah Padam’’ tanggal 17
Maret 2016. Gue mau bikin cerita lagi nih, yang gue rasa terjadi di kehidupan
nyata gue juga.
Di cerita gue kali ini, gue mau
menggambarkan sosok seorang laki laki yang tidak pernah putus asa untuk membuat
kita bahagia dan dia rela melakukan apa saja dan intinya membuat kita bahagia.
Laki laki yang seperti itu hanya ada 1 didunia ini yaitu seorang ayah. Ayah
bagi gue itu seperti pahlawan yang rela bekerja keras demi menghidupi
keluarganya. Dan gue merasa sedih ketika gue kehilangan dia untuk selamanya.
Bagi lo semua yang masih mempunyai ayah, tolong disayangi. Jangan lo bentak
karena kesempatan tidak datang dua kali.
Kita mulai
saja ceritanya.
Tepat tanggal 17 maret 2016 ini, ayah gue
ulang tahun yang ke-43 tahun namun ulang tahunnya kali ini hanya bisa gue
rayain dengan mengirim doa kepadanya karna dia sudah tiada. Gue sedih, gue teringat
sama masa masa gue bareng beliau. Gimana gue gaingat coba, selama gue tinggal
bareng beliau, gue selalu dimanja. Gue selalu dikasih apa yang gue mau, gue
selalu di antar jemput sekolahnya, selalu dipijitin ketika gue merasakan badan
capek karena saat gue kehilangan ayah gue, gue masih duduk dibangku kelas 5 SD
sedangkan kaka gue yang bernama Bagas duduk dibangku kelas 6 SD. Disinilah gue
merasa benar benar kehilangan sosok pahlawan dalam hidup gue. Gue tau ayah gue
meninggal juga karena gue tidur dibangunin oleh tetangga gue. Gue ganangis
hanya kaka gue saja yang menangis. Gue kuat, karena gue gamau bikin ayah gue
disana jadi ikut menangis. Namun setelah beberapa hari berlalu, gue jadi kangen
beliau. Kehidupan gue berubah semenjak beliau pergi meninggalkan gue. Beliau
dimakamkan di kebumen, jawa tengah. Gue tidak sempat meminta maaf kepada
beliau, tidak sempat menengok beliau dirumah sakit. Mamah guepun terkejut dan
tidak kuat menahan air matanya hingga akhirnya air matanya menetes deras
bagaikan hujan. Kaka gue juga ikut meneteskan air mata. Gue benar benar tidak
mengira kalau beliau akan pergi secepat ini, iya secepat kilat. Gue sering
merasa bahwa Allah itu tidak adil dengan gue. Kadang gue juga suka mikir dalam
hati: ‘’Kenapa harus ayah gue yang diambil nyawanya.’’ Pikiran dalam hati itu
terus membayangi hari hari gue. Tidak akan ada lagi yang antar jemput sekolah
gue, mengantarkan makanan ketika gue les di sekolah. Semua sudah hilang bagai
ditiup oleh angin. Semua sirna begitu saja. Ketika gue ingin menunjukkan jati
diri gue, Allah malah menjemputnya. Gue semakin gakuat untuk menahan semuanya.
Gakuat untuk menahan besarnya rasa kehilangan yang ada di dalam diri gue. Gue
belum membuat beliau bahagia, gue belum membuat beliau bangga dengan gue. Yang
bisa gue lakuin saat ini hanya menangis, menangis dan menangis. Kalau saja
waktu bisa gue putar balik, akan gue putar balik dimana gue masih kumpul dengan
ayah gue. Ayah gue adalah sosok laki laki yang sering gue banggain di depan
orang lain dan bahkan gue gamalu untuk tiap hari di antar jemput olehnya.
Kebaikan beliau akan gue simpan di dalam hati dan kejelekan beliau akan gue
buang jauh jauh. Gue ingin ayah gue kembali lagi. Kembali bareng gue dan bagas,
kaka gue. Gue gatau harus gimana lagi saat itu terjadi. Gue hanya melihat foto
foto gue di album ketika beliau masih hidup. Apakah ini yang dinamakan takdir? Apakah
ini yang dinamakan keadilan? Mohon, kembalikan ayah gue. Gue ingin minta maaf
kepada beliau karena gue belum bisa membuat beliau bahagia. Yang gue buat
selama ini, adalah kesedihan dalam diri beliau. Beliau sudah tiada, guepun
menyesali semuanya. Gue menyesal karena sudah sering menentang beliau, sering
menolak untuk melakukan yang beliau perintahkan. Gue selalu sayang beliau. Gue
sering iri sama mereka yang selalu pergi kemana mana bareng ayahnya. Terkadang
rasa iri itu bikin gue ingin menangis dan teriak kencang namun kalau gue
lakukan itu juga gaakan mengembalikan semuanya karna semua itu sudah takdir dan
takkan bisa dikembalikan.
40 hari-nya beliau pun tiba. Gue tidak
mengikuti karena gue tidak kuat. Rasa kehilangan masih ada didalam diri gue.
Didalam hati gue, gue masih merasakan kalau dia ada disamping gue. Selalu
menyuruh gue untuk jadi anak yang baik dan menyuruh gue untuk menjaga ibu gue.
Gue selalu kepikiran dengan hal itu entah kenapa gue serasa tidak sanggup.
Ingin rasanya gue ikut beliau yang sudah pergi untuk selamanya namun gue belum
saatnya. Perjalanan hidup gue masih panjang kedepannya, gue harus bisa
membuktikan bahwa gue pantas untuk dibanggakan. Gue jadi sering termenung,
sering menangis hingga detik ini. Dan gue gatau harus melakukan apa untuk
menghilangkan rasa kehilangan ini. Rasa kehilangan yang begitu dalam, rasa
kehilangan yang begitu besar.
Ayah, kumerindukanmu
Hei, ketemu
lagi dengan gue. Iya gue, sekar maharani putri wijonarko yang udah ngeposting
cerita yang judulnya ‘’Perjuangan Cinta yang Takkan Pernah Padam’’ tanggal 17
Maret 2016. Gue mau bikin cerita lagi nih, yang gue rasa terjadi di kehidupan
nyata gue juga.
Di cerita gue kali ini, gue mau
menggambarkan sosok seorang laki laki yang tidak pernah putus asa untuk membuat
kita bahagia dan dia rela melakukan apa saja dan intinya membuat kita bahagia.
Laki laki yang seperti itu hanya ada 1 didunia ini yaitu seorang ayah. Ayah
bagi gue itu seperti pahlawan yang rela bekerja keras demi menghidupi
keluarganya. Dan gue merasa sedih ketika gue kehilangan dia untuk selamanya.
Bagi lo semua yang masih mempunyai ayah, tolong disayangi. Jangan lo bentak
karena kesempatan tidak datang dua kali.
Kita mulai
saja ceritanya.
Tepat tanggal 17 maret 2016 ini, ayah gue
ulang tahun yang ke-43 tahun namun ulang tahunnya kali ini hanya bisa gue
rayain dengan mengirim doa kepadanya karna dia sudah tiada. Gue sedih, gue teringat
sama masa masa gue bareng beliau. Gimana gue gaingat coba, selama gue tinggal
bareng beliau, gue selalu dimanja. Gue selalu dikasih apa yang gue mau, gue
selalu di antar jemput sekolahnya, selalu dipijitin ketika gue merasakan badan
capek karena saat gue kehilangan ayah gue, gue masih duduk dibangku kelas 5 SD
sedangkan kaka gue yang bernama Bagas duduk dibangku kelas 6 SD. Disinilah gue
merasa benar benar kehilangan sosok pahlawan dalam hidup gue. Gue tau ayah gue
meninggal juga karena gue tidur dibangunin oleh tetangga gue. Gue ganangis
hanya kaka gue saja yang menangis. Gue kuat, karena gue gamau bikin ayah gue
disana jadi ikut menangis. Namun setelah beberapa hari berlalu, gue jadi kangen
beliau. Kehidupan gue berubah semenjak beliau pergi meninggalkan gue. Beliau
dimakamkan di kebumen, jawa tengah. Gue tidak sempat meminta maaf kepada
beliau, tidak sempat menengok beliau dirumah sakit. Mamah guepun terkejut dan
tidak kuat menahan air matanya hingga akhirnya air matanya menetes deras
bagaikan hujan. Kaka gue juga ikut meneteskan air mata. Gue benar benar tidak
mengira kalau beliau akan pergi secepat ini, iya secepat kilat. Gue sering
merasa bahwa Allah itu tidak adil dengan gue. Kadang gue juga suka mikir dalam
hati: ‘’Kenapa harus ayah gue yang diambil nyawanya.’’ Pikiran dalam hati itu
terus membayangi hari hari gue. Tidak akan ada lagi yang antar jemput sekolah
gue, mengantarkan makanan ketika gue les di sekolah. Semua sudah hilang bagai
ditiup oleh angin. Semua sirna begitu saja. Ketika gue ingin menunjukkan jati
diri gue, Allah malah menjemputnya. Gue semakin gakuat untuk menahan semuanya.
Gakuat untuk menahan besarnya rasa kehilangan yang ada di dalam diri gue. Gue
belum membuat beliau bahagia, gue belum membuat beliau bangga dengan gue. Yang
bisa gue lakuin saat ini hanya menangis, menangis dan menangis. Kalau saja
waktu bisa gue putar balik, akan gue putar balik dimana gue masih kumpul dengan
ayah gue. Ayah gue adalah sosok laki laki yang sering gue banggain di depan
orang lain dan bahkan gue gamalu untuk tiap hari di antar jemput olehnya.
Kebaikan beliau akan gue simpan di dalam hati dan kejelekan beliau akan gue
buang jauh jauh. Gue ingin ayah gue kembali lagi. Kembali bareng gue dan bagas,
kaka gue. Gue gatau harus gimana lagi saat itu terjadi. Gue hanya melihat foto
foto gue di album ketika beliau masih hidup. Apakah ini yang dinamakan takdir? Apakah
ini yang dinamakan keadilan? Mohon, kembalikan ayah gue. Gue ingin minta maaf
kepada beliau karena gue belum bisa membuat beliau bahagia. Yang gue buat
selama ini, adalah kesedihan dalam diri beliau. Beliau sudah tiada, guepun
menyesali semuanya. Gue menyesal karena sudah sering menentang beliau, sering
menolak untuk melakukan yang beliau perintahkan. Gue selalu sayang beliau. Gue
sering iri sama mereka yang selalu pergi kemana mana bareng ayahnya. Terkadang
rasa iri itu bikin gue ingin menangis dan teriak kencang namun kalau gue
lakukan itu juga gaakan mengembalikan semuanya karna semua itu sudah takdir dan
takkan bisa dikembalikan.
40 hari-nya beliau pun tiba. Gue tidak
mengikuti karena gue tidak kuat. Rasa kehilangan masih ada didalam diri gue.
Didalam hati gue, gue masih merasakan kalau dia ada disamping gue. Selalu
menyuruh gue untuk jadi anak yang baik dan menyuruh gue untuk menjaga ibu gue.
Gue selalu kepikiran dengan hal itu entah kenapa gue serasa tidak sanggup.
Ingin rasanya gue ikut beliau yang sudah pergi untuk selamanya namun gue belum
saatnya. Perjalanan hidup gue masih panjang kedepannya, gue harus bisa
membuktikan bahwa gue pantas untuk dibanggakan. Gue jadi sering termenung,
sering menangis hingga detik ini. Dan gue gatau harus melakukan apa untuk
menghilangkan rasa kehilangan ini. Rasa kehilangan yang begitu dalam, rasa
kehilangan yang begitu besar.
Langganan:
Postingan (Atom)