Senin, 16 Januari 2017

MATERI SOSIOLOGI

Pembagian Nilai

   Prof Dr.Notonegoro membagi nilai sosial menjadi tiga yaitu:
1. Nilai material, yaitu segala sesuatu yang berguna bagi unsur fisik manusia. Contohnya, makanan, air, dan pakaian. Nilai material relatif lebih mudah diukur dengan alat ukur. Contohnya, mengukur isi dengan liter.
2. Nilai vital, yaitu segala sesuatu yang berguna bagi manusia untuk mengadakan kegiatan dan aktivitas. Contohnya, buku dan alat tulis bagi pelajar atau mahasiswa, kalkulator bagi auditor, dan motor bagi tukang ojek motor.
3. Nilai kerohanian, yaitu segala sesuatu yang berguna bagi batin(rohani) manusia. Nilai kerohanian antara lain sebagai berikut:
a. Nilai kebenaran yang bersumber pada akal manusia.
b. Nilai keindahan yang bersumber pada rasa keindahan(estetis). Contohnya: lagu, lukisan dan ukiran atau karya karya seni.
c. Nilai kebaikan atau nilai moral yang bersumber pada kodrat manusia seperti kehendak dan kemauan. Contohnya: menolong orang yang terkena musibah.
d. Nilai religius yang bersumber pada kepercayaan dan keyakinan manusia. Nilai ini merupakan nilai ketuhanan yang tertinggidan mutlak.

Kamis, 17 Maret 2016

Ayah

     Hei, ketemu lagi dengan gue. Iya gue, sekar maharani putri wijonarko yang udah ngeposting cerita yang judulnya ‘’Perjuangan Cinta yang Takkan Pernah Padam’’ tanggal 17 Maret 2016. Gue mau bikin cerita lagi nih, yang gue rasa terjadi di kehidupan nyata gue juga.
     Di cerita gue kali ini, gue mau menggambarkan sosok seorang laki laki yang tidak pernah putus asa untuk membuat kita bahagia dan dia rela melakukan apa saja dan intinya membuat kita bahagia. Laki laki yang seperti itu hanya ada 1 didunia ini yaitu seorang ayah. Ayah bagi gue itu seperti pahlawan yang rela bekerja keras demi menghidupi keluarganya. Dan gue merasa sedih ketika gue kehilangan dia untuk selamanya. Bagi lo semua yang masih mempunyai ayah, tolong disayangi. Jangan lo bentak karena kesempatan tidak datang dua kali.
Kita mulai saja ceritanya.
    Tepat tanggal 17 maret 2016 ini, ayah gue ulang tahun yang ke-43 tahun namun ulang tahunnya kali ini hanya bisa gue rayain dengan mengirim doa kepadanya karna dia sudah tiada. Gue sedih, gue teringat sama masa masa gue bareng beliau. Gimana gue gaingat coba, selama gue tinggal bareng beliau, gue selalu dimanja. Gue selalu dikasih apa yang gue mau, gue selalu di antar jemput sekolahnya, selalu dipijitin ketika gue merasakan badan capek karena saat gue kehilangan ayah gue, gue masih duduk dibangku kelas 5 SD sedangkan kaka gue yang bernama Bagas duduk dibangku kelas 6 SD. Disinilah gue merasa benar benar kehilangan sosok pahlawan dalam hidup gue. Gue tau ayah gue meninggal juga karena gue tidur dibangunin oleh tetangga gue. Gue ganangis hanya kaka gue saja yang menangis. Gue kuat, karena gue gamau bikin ayah gue disana jadi ikut menangis. Namun setelah beberapa hari berlalu, gue jadi kangen beliau. Kehidupan gue berubah semenjak beliau pergi meninggalkan gue. Beliau dimakamkan di kebumen, jawa tengah. Gue tidak sempat meminta maaf kepada beliau, tidak sempat menengok beliau dirumah sakit. Mamah guepun terkejut dan tidak kuat menahan air matanya hingga akhirnya air matanya menetes deras bagaikan hujan. Kaka gue juga ikut meneteskan air mata. Gue benar benar tidak mengira kalau beliau akan pergi secepat ini, iya secepat kilat. Gue sering merasa bahwa Allah itu tidak adil dengan gue. Kadang gue juga suka mikir dalam hati: ‘’Kenapa harus ayah gue yang diambil nyawanya.’’ Pikiran dalam hati itu terus membayangi hari hari gue. Tidak akan ada lagi yang antar jemput sekolah gue, mengantarkan makanan ketika gue les di sekolah. Semua sudah hilang bagai ditiup oleh angin. Semua sirna begitu saja. Ketika gue ingin menunjukkan jati diri gue, Allah malah menjemputnya. Gue semakin gakuat untuk menahan semuanya. Gakuat untuk menahan besarnya rasa kehilangan yang ada di dalam diri gue. Gue belum membuat beliau bahagia, gue belum membuat beliau bangga dengan gue. Yang bisa gue lakuin saat ini hanya menangis, menangis dan menangis. Kalau saja waktu bisa gue putar balik, akan gue putar balik dimana gue masih kumpul dengan ayah gue. Ayah gue adalah sosok laki laki yang sering gue banggain di depan orang lain dan bahkan gue gamalu untuk tiap hari di antar jemput olehnya. Kebaikan beliau akan gue simpan di dalam hati dan kejelekan beliau akan gue buang jauh jauh. Gue ingin ayah gue kembali lagi. Kembali bareng gue dan bagas, kaka gue. Gue gatau harus gimana lagi saat itu terjadi. Gue hanya melihat foto foto gue di album ketika beliau masih hidup. Apakah ini yang dinamakan takdir? Apakah ini yang dinamakan keadilan? Mohon, kembalikan ayah gue. Gue ingin minta maaf kepada beliau karena gue belum bisa membuat beliau bahagia. Yang gue buat selama ini, adalah kesedihan dalam diri beliau. Beliau sudah tiada, guepun menyesali semuanya. Gue menyesal karena sudah sering menentang beliau, sering menolak untuk melakukan yang beliau perintahkan. Gue selalu sayang beliau. Gue sering iri sama mereka yang selalu pergi kemana mana bareng ayahnya. Terkadang rasa iri itu bikin gue ingin menangis dan teriak kencang namun kalau gue lakukan itu juga gaakan mengembalikan semuanya karna semua itu sudah takdir dan takkan bisa dikembalikan.


    40 hari-nya beliau pun tiba. Gue tidak mengikuti karena gue tidak kuat. Rasa kehilangan masih ada didalam diri gue. Didalam hati gue, gue masih merasakan kalau dia ada disamping gue. Selalu menyuruh gue untuk jadi anak yang baik dan menyuruh gue untuk menjaga ibu gue. Gue selalu kepikiran dengan hal itu entah kenapa gue serasa tidak sanggup. Ingin rasanya gue ikut beliau yang sudah pergi untuk selamanya namun gue belum saatnya. Perjalanan hidup gue masih panjang kedepannya, gue harus bisa membuktikan bahwa gue pantas untuk dibanggakan. Gue jadi sering termenung, sering menangis hingga detik ini. Dan gue gatau harus melakukan apa untuk menghilangkan rasa kehilangan ini. Rasa kehilangan yang begitu dalam, rasa kehilangan yang begitu besar. 

Ayah, kumerindukanmu

Hei, ketemu lagi dengan gue. Iya gue, sekar maharani putri wijonarko yang udah ngeposting cerita yang judulnya ‘’Perjuangan Cinta yang Takkan Pernah Padam’’ tanggal 17 Maret 2016. Gue mau bikin cerita lagi nih, yang gue rasa terjadi di kehidupan nyata gue juga.
     Di cerita gue kali ini, gue mau menggambarkan sosok seorang laki laki yang tidak pernah putus asa untuk membuat kita bahagia dan dia rela melakukan apa saja dan intinya membuat kita bahagia. Laki laki yang seperti itu hanya ada 1 didunia ini yaitu seorang ayah. Ayah bagi gue itu seperti pahlawan yang rela bekerja keras demi menghidupi keluarganya. Dan gue merasa sedih ketika gue kehilangan dia untuk selamanya. Bagi lo semua yang masih mempunyai ayah, tolong disayangi. Jangan lo bentak karena kesempatan tidak datang dua kali.
Kita mulai saja ceritanya.
    Tepat tanggal 17 maret 2016 ini, ayah gue ulang tahun yang ke-43 tahun namun ulang tahunnya kali ini hanya bisa gue rayain dengan mengirim doa kepadanya karna dia sudah tiada. Gue sedih, gue teringat sama masa masa gue bareng beliau. Gimana gue gaingat coba, selama gue tinggal bareng beliau, gue selalu dimanja. Gue selalu dikasih apa yang gue mau, gue selalu di antar jemput sekolahnya, selalu dipijitin ketika gue merasakan badan capek karena saat gue kehilangan ayah gue, gue masih duduk dibangku kelas 5 SD sedangkan kaka gue yang bernama Bagas duduk dibangku kelas 6 SD. Disinilah gue merasa benar benar kehilangan sosok pahlawan dalam hidup gue. Gue tau ayah gue meninggal juga karena gue tidur dibangunin oleh tetangga gue. Gue ganangis hanya kaka gue saja yang menangis. Gue kuat, karena gue gamau bikin ayah gue disana jadi ikut menangis. Namun setelah beberapa hari berlalu, gue jadi kangen beliau. Kehidupan gue berubah semenjak beliau pergi meninggalkan gue. Beliau dimakamkan di kebumen, jawa tengah. Gue tidak sempat meminta maaf kepada beliau, tidak sempat menengok beliau dirumah sakit. Mamah guepun terkejut dan tidak kuat menahan air matanya hingga akhirnya air matanya menetes deras bagaikan hujan. Kaka gue juga ikut meneteskan air mata. Gue benar benar tidak mengira kalau beliau akan pergi secepat ini, iya secepat kilat. Gue sering merasa bahwa Allah itu tidak adil dengan gue. Kadang gue juga suka mikir dalam hati: ‘’Kenapa harus ayah gue yang diambil nyawanya.’’ Pikiran dalam hati itu terus membayangi hari hari gue. Tidak akan ada lagi yang antar jemput sekolah gue, mengantarkan makanan ketika gue les di sekolah. Semua sudah hilang bagai ditiup oleh angin. Semua sirna begitu saja. Ketika gue ingin menunjukkan jati diri gue, Allah malah menjemputnya. Gue semakin gakuat untuk menahan semuanya. Gakuat untuk menahan besarnya rasa kehilangan yang ada di dalam diri gue. Gue belum membuat beliau bahagia, gue belum membuat beliau bangga dengan gue. Yang bisa gue lakuin saat ini hanya menangis, menangis dan menangis. Kalau saja waktu bisa gue putar balik, akan gue putar balik dimana gue masih kumpul dengan ayah gue. Ayah gue adalah sosok laki laki yang sering gue banggain di depan orang lain dan bahkan gue gamalu untuk tiap hari di antar jemput olehnya. Kebaikan beliau akan gue simpan di dalam hati dan kejelekan beliau akan gue buang jauh jauh. Gue ingin ayah gue kembali lagi. Kembali bareng gue dan bagas, kaka gue. Gue gatau harus gimana lagi saat itu terjadi. Gue hanya melihat foto foto gue di album ketika beliau masih hidup. Apakah ini yang dinamakan takdir? Apakah ini yang dinamakan keadilan? Mohon, kembalikan ayah gue. Gue ingin minta maaf kepada beliau karena gue belum bisa membuat beliau bahagia. Yang gue buat selama ini, adalah kesedihan dalam diri beliau. Beliau sudah tiada, guepun menyesali semuanya. Gue menyesal karena sudah sering menentang beliau, sering menolak untuk melakukan yang beliau perintahkan. Gue selalu sayang beliau. Gue sering iri sama mereka yang selalu pergi kemana mana bareng ayahnya. Terkadang rasa iri itu bikin gue ingin menangis dan teriak kencang namun kalau gue lakukan itu juga gaakan mengembalikan semuanya karna semua itu sudah takdir dan takkan bisa dikembalikan.


    40 hari-nya beliau pun tiba. Gue tidak mengikuti karena gue tidak kuat. Rasa kehilangan masih ada didalam diri gue. Didalam hati gue, gue masih merasakan kalau dia ada disamping gue. Selalu menyuruh gue untuk jadi anak yang baik dan menyuruh gue untuk menjaga ibu gue. Gue selalu kepikiran dengan hal itu entah kenapa gue serasa tidak sanggup. Ingin rasanya gue ikut beliau yang sudah pergi untuk selamanya namun gue belum saatnya. Perjalanan hidup gue masih panjang kedepannya, gue harus bisa membuktikan bahwa gue pantas untuk dibanggakan. Gue jadi sering termenung, sering menangis hingga detik ini. Dan gue gatau harus melakukan apa untuk menghilangkan rasa kehilangan ini. Rasa kehilangan yang begitu dalam, rasa kehilangan yang begitu besar. 

Ayah, kumerindukanmu

Hei, ketemu lagi dengan gue. Iya gue, sekar maharani putri wijonarko yang udah ngeposting cerita yang judulnya ‘’Perjuangan Cinta yang Takkan Pernah Padam’’ tanggal 17 Maret 2016. Gue mau bikin cerita lagi nih, yang gue rasa terjadi di kehidupan nyata gue juga.
     Di cerita gue kali ini, gue mau menggambarkan sosok seorang laki laki yang tidak pernah putus asa untuk membuat kita bahagia dan dia rela melakukan apa saja dan intinya membuat kita bahagia. Laki laki yang seperti itu hanya ada 1 didunia ini yaitu seorang ayah. Ayah bagi gue itu seperti pahlawan yang rela bekerja keras demi menghidupi keluarganya. Dan gue merasa sedih ketika gue kehilangan dia untuk selamanya. Bagi lo semua yang masih mempunyai ayah, tolong disayangi. Jangan lo bentak karena kesempatan tidak datang dua kali.
Kita mulai saja ceritanya.
    Tepat tanggal 17 maret 2016 ini, ayah gue ulang tahun yang ke-43 tahun namun ulang tahunnya kali ini hanya bisa gue rayain dengan mengirim doa kepadanya karna dia sudah tiada. Gue sedih, gue teringat sama masa masa gue bareng beliau. Gimana gue gaingat coba, selama gue tinggal bareng beliau, gue selalu dimanja. Gue selalu dikasih apa yang gue mau, gue selalu di antar jemput sekolahnya, selalu dipijitin ketika gue merasakan badan capek karena saat gue kehilangan ayah gue, gue masih duduk dibangku kelas 5 SD sedangkan kaka gue yang bernama Bagas duduk dibangku kelas 6 SD. Disinilah gue merasa benar benar kehilangan sosok pahlawan dalam hidup gue. Gue tau ayah gue meninggal juga karena gue tidur dibangunin oleh tetangga gue. Gue ganangis hanya kaka gue saja yang menangis. Gue kuat, karena gue gamau bikin ayah gue disana jadi ikut menangis. Namun setelah beberapa hari berlalu, gue jadi kangen beliau. Kehidupan gue berubah semenjak beliau pergi meninggalkan gue. Beliau dimakamkan di kebumen, jawa tengah. Gue tidak sempat meminta maaf kepada beliau, tidak sempat menengok beliau dirumah sakit. Mamah guepun terkejut dan tidak kuat menahan air matanya hingga akhirnya air matanya menetes deras bagaikan hujan. Kaka gue juga ikut meneteskan air mata. Gue benar benar tidak mengira kalau beliau akan pergi secepat ini, iya secepat kilat. Gue sering merasa bahwa Allah itu tidak adil dengan gue. Kadang gue juga suka mikir dalam hati: ‘’Kenapa harus ayah gue yang diambil nyawanya.’’ Pikiran dalam hati itu terus membayangi hari hari gue. Tidak akan ada lagi yang antar jemput sekolah gue, mengantarkan makanan ketika gue les di sekolah. Semua sudah hilang bagai ditiup oleh angin. Semua sirna begitu saja. Ketika gue ingin menunjukkan jati diri gue, Allah malah menjemputnya. Gue semakin gakuat untuk menahan semuanya. Gakuat untuk menahan besarnya rasa kehilangan yang ada di dalam diri gue. Gue belum membuat beliau bahagia, gue belum membuat beliau bangga dengan gue. Yang bisa gue lakuin saat ini hanya menangis, menangis dan menangis. Kalau saja waktu bisa gue putar balik, akan gue putar balik dimana gue masih kumpul dengan ayah gue. Ayah gue adalah sosok laki laki yang sering gue banggain di depan orang lain dan bahkan gue gamalu untuk tiap hari di antar jemput olehnya. Kebaikan beliau akan gue simpan di dalam hati dan kejelekan beliau akan gue buang jauh jauh. Gue ingin ayah gue kembali lagi. Kembali bareng gue dan bagas, kaka gue. Gue gatau harus gimana lagi saat itu terjadi. Gue hanya melihat foto foto gue di album ketika beliau masih hidup. Apakah ini yang dinamakan takdir? Apakah ini yang dinamakan keadilan? Mohon, kembalikan ayah gue. Gue ingin minta maaf kepada beliau karena gue belum bisa membuat beliau bahagia. Yang gue buat selama ini, adalah kesedihan dalam diri beliau. Beliau sudah tiada, guepun menyesali semuanya. Gue menyesal karena sudah sering menentang beliau, sering menolak untuk melakukan yang beliau perintahkan. Gue selalu sayang beliau. Gue sering iri sama mereka yang selalu pergi kemana mana bareng ayahnya. Terkadang rasa iri itu bikin gue ingin menangis dan teriak kencang namun kalau gue lakukan itu juga gaakan mengembalikan semuanya karna semua itu sudah takdir dan takkan bisa dikembalikan.


    40 hari-nya beliau pun tiba. Gue tidak mengikuti karena gue tidak kuat. Rasa kehilangan masih ada didalam diri gue. Didalam hati gue, gue masih merasakan kalau dia ada disamping gue. Selalu menyuruh gue untuk jadi anak yang baik dan menyuruh gue untuk menjaga ibu gue. Gue selalu kepikiran dengan hal itu entah kenapa gue serasa tidak sanggup. Ingin rasanya gue ikut beliau yang sudah pergi untuk selamanya namun gue belum saatnya. Perjalanan hidup gue masih panjang kedepannya, gue harus bisa membuktikan bahwa gue pantas untuk dibanggakan. Gue jadi sering termenung, sering menangis hingga detik ini. Dan gue gatau harus melakukan apa untuk menghilangkan rasa kehilangan ini. Rasa kehilangan yang begitu dalam, rasa kehilangan yang begitu besar.